14 Tahun Bali Bombing

Aku dan adikku sedang berjalan menikmati sore (sekitar jam 20.00 itu masih sore kan?) di daerah Kuta. Masih terlalu pagi untuk nge-bar, sekedar pesan sebotol bir yang harganya 2 atau 3 kali lipat dari harga normalnya. Dan, ah lupakan ide itu. Aku sedang di Kuta dengan adikku, ‘gadis Jawa baik-baik’. Repotlah nanti jika aku harus adu argumen kala liburan.

Gadis-gadis penyebar flyer dan penyambut tamu adalah pemandangan yang menjadi ciri khas bar-bar disini. Sesekali mata mereka memandang ke sesama pekerja wanita yang lain. Sekilas ada titik persaingan di antara mereka. Mungkin. Salut aku atas daya tahan tubuh mereka dari angin malam yang akan dengan mudahnya menyentuh kulit gelap mereka yang tak tertutup banyak kain.

Berhentilah aku dan adikku di tempat ini. Tempat dimana 14 tahun yang lalu suasananya pasti tidak seperti saat kami disini. Aku masih SD saat menyaksikkan beritanya di TV. Sekarang hanya bisa membayangkan mereka yang harus bekerja malam untuk menafkahi keluarga di kampung halaman, dan mereka yang sedang berusaha menikmati hidup sejenak selepas kerja keras di Negara asal mereka, dengan sekejap meninggalkan dunia untuk selamanya.

Di sini, di seberang sebuah monumen yang bertuliskan nama-nama korban dalam tragedi bom Bali. Monumen yang bagiku hanya sekedar bangunan, namun sarat akan makna bagi keluarga dan orang dekat para korban. Ah, Tuhan, semoga KAU berikan kekuatan untuk mereka yang ditinggalkan.

Amor Ring Acintya. Om Shanti Shanti Shanti.

20150329_205501
Photo by Reza Yunita 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s