The Dream Trip

In 2012, I started to dream about traveling aboard. Being a poor university student, the only trip I thought I could afford would be around Southeast Asia.

I was planing to go to Koh Phi Phi, Koh Samui, and so on. Where did I know about that? Not from “The Beach” film, but from the internet.

I had no much knowledge about traveling aboard however I surfed the internet and made itinerary as well as the budgeting for the trip.

Things happened, days passed, and I forgot the Thailand trip I constructed.

In the mid of 2017, a good friend of mine then gave me a present: Trip to Phuket. It’s not totally free, but I felt so much grateful with that.

I did a research about it since we had not been there yet before. That day when I did the research, I figured out that I could do an island hopping to my -used to be- dream destination back there in 2012 that I already forgot.

So, that’s a little documentation I could make from my “dream trip which come true”.

God is so good.

Have you got same experience like mine?

Advertisements

Don’t grieve, anything you lose comes round in another form.

–Rumi

Saya lumayan suka kutipan-kutipannya Rumi. Maklum, saya kan cah cinta, atau orang yang memuja cinta. Hehe, nggak salah kan? Tapi bagi yang nggak percaya cinta, tenang aja karena disini saya nggak bahas tentang cinta.

Jadi dulu waktu masih mahasiswa, saya nyambi sebagai guru les. Pendapatan saya waktu itu cukuplah kalau buat nyukupin kebutuhan fotokopi atau beli es teh dan bakwan jagungnya Yu Sri (kantin di GD E FKIP UNS). Saya kerjanya setiap sore-malam. Sehari mungkin hanya satu – dua rumah yang saya kunjungi buat ngajar. Oiya, saya ngajar mapel Bahasa Inggris buat semua tingkat dan semua mapel untuk tingkat SD.

Namanya juga kerja freelance ya, kadang ada banyak murid, kadang enggak. Dulu saya sempat mengandalkan pemasukan saya hanya dari les saja. Jadi terbayang kan kalau musim liburan sekolah kantong saya sekering apa karena biasanya semua siswa libur? Tidak sampai di situ, penyebab kantong kering lainnya adalah ketika si adek atau murid kita memutuskan nggak les lagi. Kembali lagi ke konsep kerja freelance tadi ya: kadang ada kadang enggak.

Kadang merasa sedih ketika ada murid yang sudah nggak lanjut les lagi. Kenapa sedih? Karena pasti pemasukan berkurang dong ya, hehehe. Tetapi setelah saya renungkan, benar seperti apa yang dikatakan Rumi di atas. Apa yang hilang dari kita akan diberikan lagi kepada kita dalam bentuk yang lain.

Contohnya begini, ada beberapa kelas yang off atau murid nggak lanjut les. Kok ndelalah, tiba-tiba ada murid baru lagi yang datang. Sama halnya dengan di pekerjaan saya sekarang. Ketika ada project yang sudah selesai kontraknya, eh, lha kok proyek-proyek baru menanti. Atau ketika ada siswa yang keluar (yak, saya masih berkecimpung di dunia les-lesan pendidikan sampai sekarang), eh ada siswa-siswa baru lagi yang berdatangan.

Jadi, untuk kawan-kawan saya yang berkecimpung di dunia freelance, marketing, atau selling di luar sana, tetap semangat ya ketika mendadak client off, kontrak nggak lanjut, dan pendapatan menurun, percaya saja pasti nanti ada gantinya baik dalam bentuk yang sama atau bentuk yang lain, yang penting kita bekerja sepenuh hati dan beri yang terbaik.

Cheers,

Kikay, yang sedang menghitung tanggal gajian.

pic1
Kalender sponsor dari klien.

Batal Nikah

whatsapp image 2019-01-11 at 2.22.55 pm
Fotonya hanya ilustrasi. Peace ya, bos!

Judulnya triggering banget kan ya?

Seumuran saya ini kalau di budaya timur khususnya kota kecil yang penduduknya masih konservatif, umur 27 tahun keatas dan masih single (single ya, a.k.a belum nikah, bisa jadi emang masih jomblo, bisa jadi dia udah ada yang ditaksir, atau malah udah ada yang diajak bobok bareng punya pacar, atau malah ada yang di simpan #eh) akan menjadi bahan cibiran empuk para kaum yang nggak punya kerjaan sampai sempat ngomongin orang. Selain itu, pasti pertanyaan “kapan nih undangannya?”, “kapan nih nikahnya?”, atau yang lebih maksa adalah “ojo lali undang-undang lho, ya!” akan sering didengar. Yak, dan KADANG saya adalah satu dari mereka yang basa-basi nanya seperti juga.

Menjawab pertanyaan “Kapan nikah?”, ini termasuk riskan banget. Kenapa coba? Ada banyak alasan, salah satu alasannya cliche banget yaitu karena kita nggak tau apa yang terjadi di hari esok. Tentu saja kita bisa merencanakan dan menurut saya kita wajib punya rencana, tapi on the way to get there, banyak hal yang dapat terjadi dan kemungkinan terburuk adalah batal nikah. Benar, seperti judul di atas.

Batal nikah bisa disebabkan banyak hal:

  1. Pasangan ketauan slengki.
  2. Ortu nggak setuju.
  3. Pasangan meninggal dunia 😦
  4. Berubah pikiran; suddenly merasa tidak cocok lalu berubah pikiran.
  5. Dll – Kalau mau nambahin lagi bisa lho ya.

Saat ini saya suka sama seseorang, tapi saya mendidik diri saya untuk menyiapkan kemungkinan terburuk selain jangan berekspetasi lebih. Di tengah-tengah rasa sayang dan cinta, saya bertanya pada diri saya “kalau nanti kamu nggak sama dia, gimana?”

Kalau nanti saya nggak jadi sama dia…. SAYA AKAN TETAP BAIK-BAIK SAJA.

  1. Patah hati itu dan kecewa itu pasti, tapi saya harus menyadari bahwa hal tersebut bagian dari jalan Tuhan dalam hidup saya dan saya akan tetap baik-baik saja.
  2. Saya akan tetap belajar menjadi pribadi yang produktif dan bahagia; membaca banyak buku, olahraga, SPA, melakukan hobi saya dan saya akan tetap baik-baik saja.
  3. Saya akan bekerja lebih giat, menghasilkan uang lebih banyak, menjaring koneksi lebih banyak, menabung, dan saya akan tetap baik-baik saja.
  4. Saya akan travelling lebih jauh, mengunjungi banyak tempat yang saya impikan, bertemu orang-orang baru dalam perjalanan, makan makanan yang belum pernah saya coba, do something I’ve never done before dan saya akan tetap baik-baik saja.
  5. Saya akan menikmati quality time dengan keluarga, teman-teman, atau bahkan orang-orang asing yang akan mengajari saya sesuatu berharga dalam hidup ini dan saya akan tetap baik-baik saja.

Jadi kenapa harus bersedih saat batal nikah? Sedihlah jika kelak setelah kamu menikah, kamu tidak sebahagia saat kamu masih sendiri. Bukan hanya karena materi ya, ahh… pasti kamu taulah yang seperti apa 🙂

Alila Solo, Januari 2019

 

An Intelligent Lover

“How come that such kind of  smart and beautiful lady like you give your love to somebody who always hurt you?” said a man to his female friend.

The woman only smiles responding her friend’s wonder question.

“Listen. I think you are very smart person. How come you turn to lose your brain when you fall in love?” Asked him again.

“I use my brain to improve my spiritual intelligent; to forgive more, believe more, and love more.” She answered.

–Solo, when rainy season in December, 2018.

Kamboja di Gili
Kamboja di Gili

Surrender

Surrender.

It doesn’t mean that we are unable.

It doesn’t mean that we are effortless.

It doesn’t mean that we are lazy to make a further move.

It doesn’t mean that we limit our dreams and cut expectations.

Surrender,

We do that when we have no more clue.

We do that when we energy had wasted.

We do that when things fall apart.

We do that when none wipe our tears of feeling broken.

Surrender,

I do surrender.

I do surrender; in the power of the Almighty who sees what I cannot see.

I do surrender; in the One who sees heart and sincerity.

I do surrender; in YOU.

Jpeg

 

When I Kiss You

JpegWhen I kiss you,

I don’t need alcohol to kiss you

I don’t kiss you for money

I don’t kiss you because you buy me food or drinks or ticket

I don’t kiss you to get over someone else

I don’t kiss you with lust

When I kiss you,

I kiss you with passion

I kiss you with love that I keep for more than 365 days times 2 or 3 or more

I kiss you with my heart

I kiss you with gratitude

I kiss you with a pray that God will keep this feeling forever

When I kiss you,

I don’t know if you kissed me with your desire

I don’t know if you don’t feel the same way as I do

I don’t know if you would leave me afterward

And the worst one,

I don’t know if you kiss somebody else…

When I kiss you,

I love you,

Not him, nor anyone else.