JAKARTA ESCAPE : Dari Grab Car, Macet, dan Lion Air

Note: This post was not endorsed by any brand though I mentioned them.

Saya masih butuh adaptasi buat tinggal around Jabodetabek tentang estimasi waktu untuk sampai di tempat tujuan. Monday morning jam 8 pagi, saya bilang ke sepupu saya “wah semoga nanti Lion nggak delay ya”. Dan dia mengamini. Apa pasal? Saya berencana berangkat sekitar jam 8/9 dari Lippo Karawaci ke Bandara Soetta. Menurut perhitungan, perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. So, at least saya akan sampai sekitar jam setengah 10 (jika saya berangkat jam 9) dan masih harus menunggu 2 jam untuk boarding (flight jam 11.45). Akhirnya jam 9 saya pesan grab car (for my first time). Ada yang belum tau apa itu grab car? Oke… Singkatnya itu ojek mobil yang nggak pake argo. Selengakapnya silahkan googling atau download aplikasinya dan coba sendiri. Hehe

Butuh less than 10 menit aja buat pak grab car sampai di apartemen sepupu saya. Yang mana, waktu saya pesen, itu posisi saya masih duduk di toilet. Akhirnya saya cepet2 finishing my business then taking my luggage terus turun dan beberapa menit kemudian mobilnya datang.

Perjalanan dari Lippo Karawaci sampai Cengkareng sih aman2 aja. Sampai akhirnya mobil yang saya tumpangi harus berhenti, melajukan mobil pelan, dan berhenti lagi, dan jalan pelan lagi. Dan saya baru sadar kalau jalanan lagi MACET! 

It was 10.10 am when I was stuck in the traffic. Menurut kebijakan, check-in-nya ditutup 45 menit sebelum terbang, which is jam 11 siang. Kecuali kalau pesawat delay, counter masih mau melayani check-in. Sedangkan dari sini ke terminal 3 kayaknya masih jauh banget. Dan macetnya sepanjang…well kayaknya sih puanjang. Dalam hati saya berdoa: “Tuhan, batalkanlah doa saya tadi pagi. Delay-kanlah pesawat saya lagi supaya counter check-in masih tetep buka sampai saya tiba”.

Tapi sepertinya Tuhan tidak membiarkan Lion selalu delay. Saya tiba jam 10.40. Masih bisa check-in tanpa panik. Bisa jalan-jalan dikit di terminal 3. Dan duduk2 nunggu boarding sambil nulis pesan panjang lebar buat dia, yang disana. 

Cengkareng, sehari setelah Valentines Day 2016.

 

hyaaa…. mulai lapar. #eh mulai deg-degan
  
menjelang panik tapi tetep stay cool foto-foto
   

Advertisements

Still about You

I woke up in four different strange rooms in a week. Not just the rooms, I woke up with different people sleeping next to me. I woke up next to those I love. I woke up next to those who care to me a lot, those who love me in return. Friends, family, who are kindly offered their bed to share with me.

I have no word to describe how grateful I am. My world is extemely huge. The people I meet are various. The stories I had heard are homogenous. I am so loved.

I woke up in different places. I met different people. I did many things I never imagined before. The ups and downs, luxury and simplicity, worker and family, they all helped me to find who am I. 

 Still, you are the one who comes to my mind after Thanking to God every I wake up in the morning.

There is always the idea to block my access to you. Not blocking my mind of you. And whenever the idea comes, you always come with your short “hi” to assure me that I am into you. Still.

Gloomy Morning

Kisah Dua Manusia di Bandara

Pagi menjelang siang. Sepupu saya mengantarkan saya tepat di depan gate 4 terminal 2F kedatangan domestik bandara Soetta. Saya tergopoh-gopoh menyeret koper dan membetulkan tali ransel saya yang tidak seimbang. Setelahnya, saya sibuk mengontak teman saya yang telah menunggu lebih dari satu jam. 

“Aku sudah di depan KFC Terminal 2F” kata saya melalui telpon.

“Aku juga, kamu dimana? Aku kok enggak liat kamu?” Jawab teman saya.

Dalam keadaan telepon masih menyala, saya sudah puter-puter selama 3 kali dan bertanya pada 3 orang yang berbeda.

“Aku di terminal kedatangan internasional” kata teman saya lagi.

Dan ternyata saya harus mencari lift untuk menuju ke bawah, ke terminal 2F kedatangan internasional. Di depan KFC, dan akhirnya bertemu teman saya.

Jika ini ibarat jodoh, mungkin yang satu harus aktif mencari, aktif mendekati, sedangkan yang satu harus aktif menunggu.

Jika saya hanya menunggu teman saya di terminal 2F lantai 2 tanpa bertanya dimana dia, tanpa bertanya pada petugas porter, dan tanpa mengambil tindakan untuk mendekatinya, maka saya tidak akan pernah bertemu teman saya. Hanya ada waktu yang terbuang dan kesempatan yang tersia-siakan.

Sama halnya dengan teman saya jika dia tidak secara aktif menunggu, pasti kami juga tidak akan bertemu. Dia menunggu sambil memberikan sinyal kepada saya, sehingga saya tau dimana dia dan dapat memutuskan langkah untuk mendekatinya. Jika dia hanya menunggu tanpa memberi kabar, tentu saya tidak akan tahu dia. Apalagi, jika dia menunggu, namun tidak sepenuhnya menunggu di tempat yang sudah ditentukan karena dia sambil jalan-jalan ke tempat lain.

Pada akhirnya, kami bertemu setelah pencarian dan penantian panjang.

Bertemu