Balada Kisah Cinta Deadpool dan Drama Netflix

Jakarta itu tempat yang asik buat jalan-jalan. Ke mall. Tapi yang bikin nggak asik adalah macetnya. Kalau dari kos saya di Karet, saya mau ke GI, LOVE, atau Semanggi deket. Tapi kalau pas saya lagi visit saudara di Jaktim, mau kemana-mana kok agak males. 

Akhirnya, setelah tiga hari hidup mengeluyur sebagai anak mall, saya dan sepupu saya memutuskan buat tinggal di rumah aja di hari Sabtu. Masak makanan sendiri juga pakai bahan seadanya karena bener-bener males keluar. Mau istirahat, lagian sepupu saya juga harus belajar buat UTS. Saya juga memutuskan untuk menghabiskan waktu sehari semalam dengan nonton drama-drama cinta di Netflix.

Saya nggak inget sih nonton film apa aja. Banyak pokoknya. Oiya, sehari sebelumnya saya sempet nonton Deadpool juga di CineMax. Deadpool juga ada kisah cintanya kan ya walopun bukan drama. 

Summary dari semua film yang saya tonton adalah: KALO CINTA PASTI BALIK. Ya…… Love will always find a way. Walopun baik yang di Deadpool maupun film di Netflix (saya lupa judulnya), si cewek ngatain “asshole” ke cowoknya pas cowok-cowok itu kabur ngilang tanpa pamit lalu balik lagi, akhirnya mereka juga bersatu juga. 

Iya, saya tau, itu kisah cinta di film. Bukan kisah cintanya Sri dan Thomas. Eh, tapi ya bisa juga ya Sri dan Thomas ketemu lagi di masa depan. Kalau Vanessa masih nerima Wade Wilson pas dia balik2 cacat and botak, Sri bisa nerima nggak ya kalau Thomas balik-balik botak dan perutnya buncit? 

Ah…. Cinta….. Ah, film…… Ah, baper……
 

yang brewok dikit-dikit gini emang bikin baper
  
ada yang setia nemenin nonton
 

–Jakarta yang lagi hobi mendung dan hujan, Februari 2015.

 

Advertisements

Rindu yang Bertemu

“Thomas!”

Aku berlari kecil menghampiri lelaki yang duduk di sepeda motor di depan Hotel H Sovereign, Kuta – Bali. Hatiku berdegup kencang. Selalu seperti ini saat ku temui dia. Sejenak kami berpelukan. Hanya sejenak, meskipun aku ingin lebih lama. Lebih erat. Rindu selama lebih dari empat bulan ini seolah-olah menuntut haknya.

Kami memutuskan untuk mencari nasi padang di sekitar Kuta untuk makan malamnya. Kami kikuk. Aku jauh lebih kikuk. Thomas tampak sedikit lebih tenang. Entahlah. Aku tak tau apa yang ada di pikirannya.

Bagi Thomas yang tidak suka hingar bingar dunia malam dengan house music, Kuta bukanlah tempat yang menyenangkan bagi dia. Thomas meminta untuk hang out di lobi hotel saja.

Sejenak kami merasakan kursi empuk dan nuansa mewah hotel ini. Kemewahan. Sesuatu yang juga Thomas benci setelah orang kaya. Aku memutuskan untuk mengajaknya ke rooftop untuk melihat kolam renang. Alasan yang sangat naïf: aku mau lihat kolam renang.

Tibalah kami di rooftop hotel ini. Syahdu. Kolam yang sangat luas dengan beberapa kursi malas. Dan pemandangan pesawat yang landing dan take-off. Serta langit dan bintangnya.

Nampaknya ini adalah sebuah kesalahan saat kami berada di sini. Selama empat bulan ini hubungan kami tidak terlalu baik. Aku seperti cinta tapi juga benci. Naluri kelaki-lakiannya pun muncul saat dia memutuskan pindah dari tempat duduknya untuk rebahan di sebelahku. Tangannya mulai berayun lebut ke pinggulku dan membuat darahku berdesir.

Naluri wanitaku yang mendambakan kasih sayang pun juga muncul. Aku meletakkan kepalaku tepat di dada kirinya. Untuk keempat kalinya aku mendengarkan secara jelas kala jantungnya berdetak kencang. Then we kissed, under the sky, the moon, and the stars of Bali.

“I hope you forgive me for not having better self control last night” –Thomas

Dia hanya meninggalkan pesan sesingkat itu dan lalu menghilang. Meninggalkan aku dengan perasaan bodoh, ditambah dengan penyesalan atas hal yang juga aku inginkan. Ah rindu, kau menyiksa saat tak bertemu. Kau menyiksa pula setelah bertemu. Ah, Sri….

 

Y984063045

Dekat Airport Ngurah Rai, Maret 2015.

Tentang Pengorbanan (yang Seolah tak Berarti)

Aku teringat tentang prinsip yang diajarkan oleh wanita-wanita di sekelilingku,

“Bagian seorang wanita adalah menunggu, bukan mengejar lelaki, Sri. Sama seperti ovum menunggu dibuahi sperma. Sperma yang menghampiri sang ovum, bukan ovum yang berjalan memilih sperma mana yang mau dia jadikan partner. Menunggu itu sudah takdir yang digariskan Sang Maha Kuasa melalui kejadian alami, bahkan dalam tubuhmu. Ini bukan tentang modernisitas, Sri… Menunggu itu bukan berarti kamu pasif, justru menunggu adalah kata kerja aktif yang tak banyak orang bisa melakukannya. Jika kelak kamu yang harus menggantikan peran suamimu untuk lebih aktif, itu beda cerita…..”

Sebuah siang di salah satu kedai kopi di Renon. Langit mendung menggantung, namun tidak terlalu gelap. Mungkin sama dengan kondisi hatiku. Tempat ini jauh berbeda dengan habitatku yang alami. Mungkin berada di tempat ini seperti saat aku berada di sebuah coffee shop di pusat kota Surabaya. Tidak nampak begitu Bali. Tidak, aku sedang tidak bicara tentang kapitalisme.

“Thomas, tahukah kamu bahwa selama ini aku telah melanggar budayaku dengan selalu menjadi orang yang menghampirimu?” kataku.

Lelaki yang selama dua bulan ini selalu aktif menelponku di tengah malam itu nampak terkejut mendengar pengakuanku.

“Tapi kamu kan wanita modern, Sri?” sahutnya kemudian.

Orang Jawa. Terkadang aku ingin menyalahkan kenapa aku besar di budaya ini. Budaya ini seolah-olah membuat aku harus mengingkari diriku sendiri untuk menjadi apa yang budaya ajarkan kepadaku. Tapi bukankah kejadian lahirku, besarku, dan matikupun sudah digariskan? Betapa kurang ajarnya ketika aku tadi menyesali keadaanku lahir dan besar di Pulau Jawa. Sekalipun sekarang aku di Bali, ajaran budaya itu tak hilang. Iya, dia menjadi bagian dari naluriku yang lembut.

“Iya, aku memang wanita modern. Tapi dalam hal ini, menjadi orang yang aktif ‘mengunjungimu’ telah melanggar apa yang budaya ajarkan kepadaku. Aku melakukan sesuatu yang melanggar prinsipku karena kamu, dan inilah pengorbananku”.

 Sayang kata itu tak pernah sempat aku utarakan tepat di hadapannya.

Broken into Pieces, Denpasar – November 2014

Wanita Perancis yang Memelukku: yang Pertama

Bali Timur, 17 September tahun lalu.

Matahari Bali pada jam 4 sore adalah matahari ternyaman untuk berada di bibir pantai. Camelia benar-benar menikmati bebasnya berenang di laut utara pulau Bali. Jika ditotal, mungkin dia sudah mencapai 1 kilometer dalam waktu satu jam ini. Maklum, hidupnya di Perancis tak sesantai kala ia di Bali.

Aku hanya duduk termenung di bibir pantai. Tepat berada di atas sebuah kain pantai yang digelar diatas kerikil-kerikil dan pasir pantai yang hitam. Kadang kerikil itu menusuk pantatku. Nafasku terasa berat. Berat, hingga seakan aku ingin berhenti bernafas saja.

Ah, mungkin aku akan mencoba untuk berenang. Dari bibir pantai menuju ke tengah. Tengah yang dalam itu. Dan tak akan kembali selamanya.

Beginikah rasanya patah hati? Jika iya, aku bisa mengerti perasaan sang pencetus ide bunuh diri kala patah hati. Rasanya, aku tak tau hidupku harus kemana dan untuk siapa. Sendi-sendiku terasa putus, tulangku terasa ambruk hingga aku tak kuat berdiri. Beginikah rasanya jika separuh nafasmu itu hilang? Hilang secara abstrak, ada namun merasa tak ada. Itu lebih menyakitkan daripada benar-benar kehilangannya karena kau hamper tutup usia. Mungkin.

Sekian jam yang lalu, aku hanya bisa menangis. Setidaknya aku memeluk bantal. Bantal yang mahal berlapis sarung yang mahal juga. Jadi aku punya sandaran yang nyaman ketika tak ada bahu. Camelia mengetok pintu dan membukanya sendiri karena memang pintu kamar kami tak bisa dikunci. Rusak. Dia mendapatiku menangis seperti seorang ibu kehilangan anaknya. Aku kehilangan separuh hatiku.

Camelia terkejut melihatku ‘hancur’ seperti ini. Ini kali pertamanya dia mendapatiku seperti orang ‘hancur’. Dia terpaksa menyimpan cerita perjalanannya ke Ubud demi memelukku. Tak hanya memeluk, dia pun mengusap air mataku. Bantal mahal yang kupeluk tadinya tak lagi nyaman, ketika ada sahabat yang memelukmu. Sahabat? Secepat itukan ku panggil Camelia sebagai sahabat? Bukankah aku baru mengenalnya sekian minggu yang lalu? Ah, rasanya tak penting lagi sebuah gradasi pertemanan jika yang kau perlukan hanyalah sebuah pelukan empati dan sebuah bisikan, “everything’s gonna be alright”.

Dan kembali lamunanku di pinggir pantai ini membuat dadaku sesak ketika mengingat apa yang ia katakan.

“Sri, aku tahu kamu adalah orang yang berpendirian keras. Pun aku tau kalau kamu punya perasaan yang kuat denganku. Namun aku tidak”.

Tega kamu, Thomas.

Kala sore itu
Kala sore itu