Word War

Ibarat sebuah perang, aku hanya pasrah saat dipasang di barisan depan.

Perang, sesuatu yang datang tiba-tiba. Tidak memberiku salam terlebih dahulu maupun waktu untuk sekedar memerikasa jika peluruku sudah penuh. Siap tidak siap, mau tidak mau, aku harus maju.

Aku ditembak, dibom, dilempar granat, bahkan pedang tajam menusuk bersamaan dengan amunisiku yang terakhir.

Namun aku kuat sampai akhir perang itu selesai. Aku hampir menangis, tapi kutahan. Takut kalau-kalau ingusku ikut keluar. Kan malu.

Aku keluar dari medannya dengan senyum lebar meskipun aku sudah tidak punya muka. Pasukan yang menantiku ikut tersenyum dan bahagia setelah aku kembali kepada mereka. Senyum yang kuanggap tulus ternyata menipu hatiku yang sesungguhnya. Orang-orang tau bahwa aku menang, tapi sebenarnya kalah penuh luka. Namun aku masih hidup dan bertahan.

Di akhir cerita, aku memberi waktu diriku untuk menyembuhkan luka sembari memaksa kakiku untuk tetap berjalan.

Perang selalu menyisakan duka. Amunisi yang berceceran kini kupunguti dan kususun kembali. Bahkan kupoles hingga nampak baru lagi.

Pun demikian, aku bangga. Aku adalah pahlawan. Untuk diriku sendiri. Aku menang atas ketakutanku sendiri.

 Sayang, perang belum berakhir sampai aku benar-benar mati.

Tribute to my Thesis Judgement moment July 12th, 2016. 

Advertisements