Tinderella

The girl in the corner was sitting quietly, staring at her iPad. She was sweeping right and left. So did the girl in the centre. She was staring at her iPhone, did the same finger movement as the girl in the corner.

Some take it easy. Some take it hard.

They were lonely. They were hurt.

They were empty inside. They were cheering up.

They needed someone to talk to or someone to fuck.

They might find an evil, might find an angel .

 

 

 

Advertisements

Plis, deh… Jangan Gatel Lagi!

Mbak gatel.

Aku pernah denger lelucon pepatah begini: uang memang nggak bisa menjamin kebahagiaan. Tapi lebih baik menangis di dalam mobil Mercedes Benz daripada di atas sepeda motor. Kalau aku sih mau nambahin dikit jadi gini: uang memang nggak bisa menjamin kebahagiaan. Tapi lebih baik menangis di dalam mobil Mercedes Benz daripada di atas sepeda motor, apalagi kalau pas hujan deras. Soalnya hujan-hujan naik motor itu agak syusyah juga. Mau nutup helm, jalannya nggak keliatan. Kalau nggak ditutup kaca helmnya, muka kena air hujan yang turun dari langit, yang rasanya kayak ditampar bapak pakai sandal waktu aku kecil. Pedes, cin!

Kalau aku sih nggak pilih keduanya. Kondisinya ama-sama nangis soalnya. Kan sedih. Tapi kalau disuruh milih, aku mau milih di dalem Mercedes Benz dan bahagia. Sorry, it was out of options.

Ngobrol-ngobrol tentang kemewahan, suatu hari di bulan Maret 2016, aku pernah nginep di salah satu hotel bintang lima di Surabaya yang konon Syahrini suka juga nginep di situ. Ceritanya, itu adalah momen reuni dengan none-none syantik semasa aku kerja di Jakarta. Dan itu aku digratisin karena mereka paham bahwa aku yang paling kere kangen berat sama aku. Kalau buatku sendiri, Surabaya seperti rumah kesekian karena aku sering transit di Surabaya dari Denpasar maupun nebeng bobok di rumah sahabat-sahabatku di dekat Juanda. Jadi, kala itu aku juga nggak excited-excited amat waktu bilang,”yeay, akhirnya main ke Surabaya!” *yaapa sih kon iku -.-

J.W.M.

Saat itu, aku sedang menderita sakit gatal-gatal. Literally gatal. Jadi sekujur tubuhku gatel dan muncul bintik-bintik merah. Itu berlangsung selama sekitar tiga bulan. Meskipun udah ke dokter, minum jamu, mandi rempah, pakai bedak, tetap aja gatelnya nggak reda. Reda sejenak habis mandi, lalu timbul lagi dan rasanya harus selalu pengen digaruk. Bersyukurnya, mukaku nggak ikut bintik-bintik meskipun sempat agak mruntus. Belakangan diketahui bahwa sakit gatel itu adalah bagian dari stress/depresiku pada waktu itu. Kapan-kapan aku ceritain kalau lagi mood.

Bintik-bintik merah menggemaskan.

Kembali lagi tentang kisah sehari melancong mewah, makanlah daku seporsi kepiting saus padang yang endez. Lalu sesampainya di hotel gatalnya makin manja, minta digaruk. Akhirnya aku berendam air hangat di bath-up dan dikasih garam dikit (uda disiapin dari hotelnya). Tapi seperti yang kuceritain di atas, gatalnya reda sejenak setelah mandi aja, habis itu balik lagi. Akhirnya, tidur di ranjang cantik bak princess pun juga nggak lelap karena sering kebangun dan garuk-garuk.

Lega sementara…

Terus kaitannya sama lelucon pepatah di atas tadi apa? Kalau menurutku, mau dimanapun kalau kita lagi nggak enak ati, nggak enak badan, rasanya ya kemewahan itu terasa hambar. Pun sebaliknya. Mau dimanapun dan dalam kondisi apapun, asal sama orang yang asik dan disayangin, pasti bakal indah.

Di akhir cerita, aku tetep haha-hihi sama teman-temanku: membahas masa depan, diskusi tentang ketuhanan (agak berat ini topiknya), dan ngomong saru konten 17+. Terima kasih untuk kasihnya, kawan. Kini aku sudah nggak gatal.

Santi. Santi. Santi.

14 Tahun Bali Bombing

Aku dan adikku sedang berjalan menikmati sore (sekitar jam 20.00 itu masih sore kan?) di daerah Kuta. Masih terlalu pagi untuk nge-bar, sekedar pesan sebotol bir yang harganya 2 atau 3 kali lipat dari harga normalnya. Dan, ah lupakan ide itu. Aku sedang di Kuta dengan adikku, ‘gadis Jawa baik-baik’. Repotlah nanti jika aku harus adu argumen kala liburan.

Gadis-gadis penyebar flyer dan penyambut tamu adalah pemandangan yang menjadi ciri khas bar-bar disini. Sesekali mata mereka memandang ke sesama pekerja wanita yang lain. Sekilas ada titik persaingan di antara mereka. Mungkin. Salut aku atas daya tahan tubuh mereka dari angin malam yang akan dengan mudahnya menyentuh kulit gelap mereka yang tak tertutup banyak kain.

Berhentilah aku dan adikku di tempat ini. Tempat dimana 14 tahun yang lalu suasananya pasti tidak seperti saat kami disini. Aku masih SD saat menyaksikkan beritanya di TV. Sekarang hanya bisa membayangkan mereka yang harus bekerja malam untuk menafkahi keluarga di kampung halaman, dan mereka yang sedang berusaha menikmati hidup sejenak selepas kerja keras di Negara asal mereka, dengan sekejap meninggalkan dunia untuk selamanya.

Di sini, di seberang sebuah monumen yang bertuliskan nama-nama korban dalam tragedi bom Bali. Monumen yang bagiku hanya sekedar bangunan, namun sarat akan makna bagi keluarga dan orang dekat para korban. Ah, Tuhan, semoga KAU berikan kekuatan untuk mereka yang ditinggalkan.

Amor Ring Acintya. Om Shanti Shanti Shanti.

20150329_205501
Photo by Reza Yunita 

Dadar Ijo: Sarapan dan Dessert Cantik

Saya lupa-lupa ingat, percakapan apa yang membawa saya dan teman-teman saya (Paula dan Marta) memasak green pancake pada akhirnya. Kalau nggak salah, waktu itu salah seorang dari mereka penasaran tentang pancake yang berwarna hijau. Dia mengira kalau warna itu nggak alami, lalu saya jelasakan kalau kita (mungkin nggak hanya di Indonesia) biasa menggunakan daun pandan untuk mewarnai makanan.

Akhirnya saya turun tangan untuk mempraktekkan “green pancake” alias dadar ijo ini. Bahannya simple sekali seperti pancake pada umumnya. Kalau pancake kami bahan-bahannya tepung terigu, telur, susu, garam, gula, butter, dan nggak ketinggalan air hasil perasan daun pandan yang ditumbuk. Ini dia penampakan Marta dan Paula yang lagi bikin dadaran. Saya instrukturnya dan merangkap jadi tukang dokumentasi.

Ngomong-ngomong soal daun pandan, saya sempat salah memilih jenis daun pandan. Kurang tau sih ada berapa jenis daun pandan, tapi setau saya ada yang memang khusus buat bahan masak dan ada yang buat tanaman hiasan (yang agak berduri dan biasa dipakai buat senjata perang di Desa Tenganan). Kayaknya lho ya.

Saya membuat kue pandan hijau ini dua kali. Pertama waktu party di rumah teman saya, Tania, di daerah Candidasa, dan yang kedua waktu Marta nginep di tempat saya. Pas bikin di tempatnya Tania, kayaknya nggak ada yang mencurigakan dengan daun pandannya. Tapi yang kedua, waktu bikin di Tulamben, saya nggak ngerti harus nyari daun pandan dimana, secara pasarnya jauh bok. Akhirnya saya jalan ke tempat tetangga saya; mbok Komang yang punya tanaman ini di rumahnya.

Pas saya mau ambil, kok beda ya dari daun pandan yang sebelumnya. Agak lebih keras. Tapi toh akhirnya saya pakai juga dan hasilnya memang nggak sehijau yang pertama. Nggak tau sih penjelasan ilmiahnya bagaimana. Yang penting saya, Marta, dan Nans yang saat itu makan dadar ijo -dengan pandan yang mencurigakan-, masih sehat2 aja.

Pernah nemu dadar ijo di daerah kalian?

Smoothie Bowl

Dulu waktu tinggal di Bali, jenis makanan ini belum ngehits seperti sekarang. Eh atau mungkin karena akunya tinggal di kampung, jadi resto-restonya belum coba inovasi baru. Sekarang lihat posting temen-temen yang suka nongki cantik, ini makanan kayaknya lagi hits.

Kalau dulu sih aku pikirnya smoothie ini ya minuman. Diminum pakai sedotan. Aku suka pesen banana/mango smoothie sambil nongkrong galau sama Liza. Ah, mendadak kangen sama warung Komang. 

Iseng dong pagi ini coba bikin smoothie bowl sendiri. Niatnya sih mau breakthrough: bikin perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Mumpung awal bulan, momennya pas buat memulai sesuatu yang baru. Jadi mau sarapan pakai buah-buah gitu, ngurangin nasi biar agak susut dikit.

Tapi you know lah yang kayak gitu itu biasanya hanyalah WACANA. Jadi tadi pagi waktu aku lagi ngupas2 buah, bapakku sarapan sama telur dadar. Sama bapak, telur dadarnya disisain separuh. Aku adalah orang yang penuh belas kasih jadi nggak bisa kalau lihat dianggurin. 

Akhirnya…..yes… Sarapan ronde pertama pakai nasi 3 sendok dan telur dadar! Hahaha. 

Tapi apakah smoothie bowlnya nggak jadi? O… Tentu jadi! Kalau nggak jadi, nggak bakal ada foto di bawah ini.

  

masih perlu belajar plating
Bikinnya smoothie ala Kiki-nya simpel banget. Pisang, anggur, kiwi sama susu putih cair sedikit aja. Terus diblend. Udah gitu aja. Yang bikin lama adalah ngupas2 dan potong buahnya plus nyuci alat2nya.

Lalu apa bedanya smoothie di gelas dan smoothie bowl? Sensasinya. Iya, berasa kayak makan bubur tapi bubur buah, jadi bikin seger. Berhubung tadi aku udah sarapan ronde pertama, jadi smoothie bowlnya nggak abis. Maruk sih. 

Kamu udah pernah coba? Kalau belum, jangan jadiin post ini sebagai acuan karena kamu mungkin ngga akan terpacu. Hehe. Silahkan cari aja di IG pake hastag #smoothiebowl. Bakalan ada banyak gambar2 yang bikin kamu semangat buat create your own smoothie bowl.

Have a blessed August!

 

Word War

Ibarat sebuah perang, aku hanya pasrah saat dipasang di barisan depan.

Perang, sesuatu yang datang tiba-tiba. Tidak memberiku salam terlebih dahulu maupun waktu untuk sekedar memerikasa jika peluruku sudah penuh. Siap tidak siap, mau tidak mau, aku harus maju.

Aku ditembak, dibom, dilempar granat, bahkan pedang tajam menusuk bersamaan dengan amunisiku yang terakhir.

Namun aku kuat sampai akhir perang itu selesai. Aku hampir menangis, tapi kutahan. Takut kalau-kalau ingusku ikut keluar. Kan malu.

Aku keluar dari medannya dengan senyum lebar meskipun aku sudah tidak punya muka. Pasukan yang menantiku ikut tersenyum dan bahagia setelah aku kembali kepada mereka. Senyum yang kuanggap tulus ternyata menipu hatiku yang sesungguhnya. Orang-orang tau bahwa aku menang, tapi sebenarnya kalah penuh luka. Namun aku masih hidup dan bertahan.

Di akhir cerita, aku memberi waktu diriku untuk menyembuhkan luka sembari memaksa kakiku untuk tetap berjalan.

Perang selalu menyisakan duka. Amunisi yang berceceran kini kupunguti dan kususun kembali. Bahkan kupoles hingga nampak baru lagi.

Pun demikian, aku bangga. Aku adalah pahlawan. Untuk diriku sendiri. Aku menang atas ketakutanku sendiri.

 Sayang, perang belum berakhir sampai aku benar-benar mati.

Tribute to my Thesis Judgement moment July 12th, 2016. 

Sun Sets in my Heart

Living in rural place, close to nature, and quite in the East of Bali made me feeling awkward and excited in the same time when I visited my friend in Legian. We spent an evening hanging out in one of the famous and fancy beach clubs in Double Six area, Seminyak. At first, an usher woman stared at me in a strange way. I guessed it was because of the way I dressed in a long jeans and tank top, nothing smelt glamorous and sexy from me.

The woman asked me if I had made a reservation and I answered her by pointing my friend who is already well known in the beach club. She got what I meant that I came with my friend. She then nodded and let me come in. My friend said hi to almost everyone there. She’s been famous here and she looks fancy. Yeah, I was there just because of her.

A foreigner DJ played music that match with the sunset moment and the crowd of Seminyak at the time. Some of visitors were swimming in the pool, some were just sitting down enjoy the drinks and the music while talking to some friends. I observed around and find a fact: people who work here are more kind to foreign tourist and those who ‘looks’ rich. It’s very understandable and nothing’s wrong with that since it’s what they should do.

I refused the third cocktail offered to me. Honestly, I would be happier if there is somebody offered me a glass of orange juice or sweet chocolate ice or well, maybe a glass of Virgin Mojito. I am not a big fan of alcohol. Just because of one reason: it’s pricey.

“I would be the one who drives home, so I must not get drunk”. It’s just two glasses of Cocktail and I felt bit tipsy so fast. I said no when my friend offered me her cigarette. A waiter approached us and smiled while replacing the ashtray full of menthol cigarette on our table with the new one. My friend smiled to him back as the sign of “thanks”.

The sun has set. It’s time to leave, find something to eat for diner, shower, and then sleep. For sure, the morning would wake me up with massive stomachache of the alcohol, which processed in my tummy.

On the way home, I kept thinking of my place in the village; a place where I am welcomed as I am, a place of simplicity and honest life: Tulamben.

–Legian, which is always summer.

IMG_3206
sunset time