Plis, deh… Jangan Gatel Lagi!

Mbak gatel.

Aku pernah denger lelucon pepatah begini: uang memang nggak bisa menjamin kebahagiaan. Tapi lebih baik menangis di dalam mobil Mercedes Benz daripada di atas sepeda motor. Kalau aku sih mau nambahin dikit jadi gini: uang memang nggak bisa menjamin kebahagiaan. Tapi lebih baik menangis di dalam mobil Mercedes Benz daripada di atas sepeda motor, apalagi kalau pas hujan deras. Soalnya hujan-hujan naik motor itu agak syusyah juga. Mau nutup helm, jalannya nggak keliatan. Kalau nggak ditutup kaca helmnya, muka kena air hujan yang turun dari langit, yang rasanya kayak ditampar bapak pakai sandal waktu aku kecil. Pedes, cin!

Kalau aku sih nggak pilih keduanya. Kondisinya ama-sama nangis soalnya. Kan sedih. Tapi kalau disuruh milih, aku mau milih di dalem Mercedes Benz dan bahagia. Sorry, it was out of options.

Ngobrol-ngobrol tentang kemewahan, suatu hari di bulan Maret 2016, aku pernah nginep di salah satu hotel bintang lima di Surabaya yang konon Syahrini suka juga nginep di situ. Ceritanya, itu adalah momen reuni dengan none-none syantik semasa aku kerja di Jakarta. Dan itu aku digratisin karena mereka paham bahwa aku yang paling kere kangen berat sama aku. Kalau buatku sendiri, Surabaya seperti rumah kesekian karena aku sering transit di Surabaya dari Denpasar maupun nebeng bobok di rumah sahabat-sahabatku di dekat Juanda. Jadi, kala itu aku juga nggak excited-excited amat waktu bilang,”yeay, akhirnya main ke Surabaya!” *yaapa sih kon iku -.-

J.W.M.

Saat itu, aku sedang menderita sakit gatal-gatal. Literally gatal. Jadi sekujur tubuhku gatel dan muncul bintik-bintik merah. Itu berlangsung selama sekitar tiga bulan. Meskipun udah ke dokter, minum jamu, mandi rempah, pakai bedak, tetap aja gatelnya nggak reda. Reda sejenak habis mandi, lalu timbul lagi dan rasanya harus selalu pengen digaruk. Bersyukurnya, mukaku nggak ikut bintik-bintik meskipun sempat agak mruntus. Belakangan diketahui bahwa sakit gatel itu adalah bagian dari stress/depresiku pada waktu itu. Kapan-kapan aku ceritain kalau lagi mood.

Bintik-bintik merah menggemaskan.

Kembali lagi tentang kisah sehari melancong mewah, makanlah daku seporsi kepiting saus padang yang endez. Lalu sesampainya di hotel gatalnya makin manja, minta digaruk. Akhirnya aku berendam air hangat di bath-up dan dikasih garam dikit (uda disiapin dari hotelnya). Tapi seperti yang kuceritain di atas, gatalnya reda sejenak setelah mandi aja, habis itu balik lagi. Akhirnya, tidur di ranjang cantik bak princess pun juga nggak lelap karena sering kebangun dan garuk-garuk.

Lega sementara…

Terus kaitannya sama lelucon pepatah di atas tadi apa? Kalau menurutku, mau dimanapun kalau kita lagi nggak enak ati, nggak enak badan, rasanya ya kemewahan itu terasa hambar. Pun sebaliknya. Mau dimanapun dan dalam kondisi apapun, asal sama orang yang asik dan disayangin, pasti bakal indah.

Di akhir cerita, aku tetep haha-hihi sama teman-temanku: membahas masa depan, diskusi tentang ketuhanan (agak berat ini topiknya), dan ngomong saru konten 17+. Terima kasih untuk kasihnya, kawan. Kini aku sudah nggak gatal.

Santi. Santi. Santi.

Advertisements

14 Tahun Bali Bombing

Aku dan adikku sedang berjalan menikmati sore (sekitar jam 20.00 itu masih sore kan?) di daerah Kuta. Masih terlalu pagi untuk nge-bar, sekedar pesan sebotol bir yang harganya 2 atau 3 kali lipat dari harga normalnya. Dan, ah lupakan ide itu. Aku sedang di Kuta dengan adikku, ‘gadis Jawa baik-baik’. Repotlah nanti jika aku harus adu argumen kala liburan.

Gadis-gadis penyebar flyer dan penyambut tamu adalah pemandangan yang menjadi ciri khas bar-bar disini. Sesekali mata mereka memandang ke sesama pekerja wanita yang lain. Sekilas ada titik persaingan di antara mereka. Mungkin. Salut aku atas daya tahan tubuh mereka dari angin malam yang akan dengan mudahnya menyentuh kulit gelap mereka yang tak tertutup banyak kain.

Berhentilah aku dan adikku di tempat ini. Tempat dimana 14 tahun yang lalu suasananya pasti tidak seperti saat kami disini. Aku masih SD saat menyaksikkan beritanya di TV. Sekarang hanya bisa membayangkan mereka yang harus bekerja malam untuk menafkahi keluarga di kampung halaman, dan mereka yang sedang berusaha menikmati hidup sejenak selepas kerja keras di Negara asal mereka, dengan sekejap meninggalkan dunia untuk selamanya.

Di sini, di seberang sebuah monumen yang bertuliskan nama-nama korban dalam tragedi bom Bali. Monumen yang bagiku hanya sekedar bangunan, namun sarat akan makna bagi keluarga dan orang dekat para korban. Ah, Tuhan, semoga KAU berikan kekuatan untuk mereka yang ditinggalkan.

Amor Ring Acintya. Om Shanti Shanti Shanti.

20150329_205501
Photo by Reza Yunita 

Smoothie Bowl

Dulu waktu tinggal di Bali, jenis makanan ini belum ngehits seperti sekarang. Eh atau mungkin karena akunya tinggal di kampung, jadi resto-restonya belum coba inovasi baru. Sekarang lihat posting temen-temen yang suka nongki cantik, ini makanan kayaknya lagi hits.

Kalau dulu sih aku pikirnya smoothie ini ya minuman. Diminum pakai sedotan. Aku suka pesen banana/mango smoothie sambil nongkrong galau sama Liza. Ah, mendadak kangen sama warung Komang. 

Iseng dong pagi ini coba bikin smoothie bowl sendiri. Niatnya sih mau breakthrough: bikin perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Mumpung awal bulan, momennya pas buat memulai sesuatu yang baru. Jadi mau sarapan pakai buah-buah gitu, ngurangin nasi biar agak susut dikit.

Tapi you know lah yang kayak gitu itu biasanya hanyalah WACANA. Jadi tadi pagi waktu aku lagi ngupas2 buah, bapakku sarapan sama telur dadar. Sama bapak, telur dadarnya disisain separuh. Aku adalah orang yang penuh belas kasih jadi nggak bisa kalau lihat dianggurin. 

Akhirnya…..yes… Sarapan ronde pertama pakai nasi 3 sendok dan telur dadar! Hahaha. 

Tapi apakah smoothie bowlnya nggak jadi? O… Tentu jadi! Kalau nggak jadi, nggak bakal ada foto di bawah ini.

  

masih perlu belajar plating
Bikinnya smoothie ala Kiki-nya simpel banget. Pisang, anggur, kiwi sama susu putih cair sedikit aja. Terus diblend. Udah gitu aja. Yang bikin lama adalah ngupas2 dan potong buahnya plus nyuci alat2nya.

Lalu apa bedanya smoothie di gelas dan smoothie bowl? Sensasinya. Iya, berasa kayak makan bubur tapi bubur buah, jadi bikin seger. Berhubung tadi aku udah sarapan ronde pertama, jadi smoothie bowlnya nggak abis. Maruk sih. 

Kamu udah pernah coba? Kalau belum, jangan jadiin post ini sebagai acuan karena kamu mungkin ngga akan terpacu. Hehe. Silahkan cari aja di IG pake hastag #smoothiebowl. Bakalan ada banyak gambar2 yang bikin kamu semangat buat create your own smoothie bowl.

Have a blessed August!

 

Word War

Ibarat sebuah perang, aku hanya pasrah saat dipasang di barisan depan.

Perang, sesuatu yang datang tiba-tiba. Tidak memberiku salam terlebih dahulu maupun waktu untuk sekedar memerikasa jika peluruku sudah penuh. Siap tidak siap, mau tidak mau, aku harus maju.

Aku ditembak, dibom, dilempar granat, bahkan pedang tajam menusuk bersamaan dengan amunisiku yang terakhir.

Namun aku kuat sampai akhir perang itu selesai. Aku hampir menangis, tapi kutahan. Takut kalau-kalau ingusku ikut keluar. Kan malu.

Aku keluar dari medannya dengan senyum lebar meskipun aku sudah tidak punya muka. Pasukan yang menantiku ikut tersenyum dan bahagia setelah aku kembali kepada mereka. Senyum yang kuanggap tulus ternyata menipu hatiku yang sesungguhnya. Orang-orang tau bahwa aku menang, tapi sebenarnya kalah penuh luka. Namun aku masih hidup dan bertahan.

Di akhir cerita, aku memberi waktu diriku untuk menyembuhkan luka sembari memaksa kakiku untuk tetap berjalan.

Perang selalu menyisakan duka. Amunisi yang berceceran kini kupunguti dan kususun kembali. Bahkan kupoles hingga nampak baru lagi.

Pun demikian, aku bangga. Aku adalah pahlawan. Untuk diriku sendiri. Aku menang atas ketakutanku sendiri.

 Sayang, perang belum berakhir sampai aku benar-benar mati.

Tribute to my Thesis Judgement moment July 12th, 2016. 

Tempat Minum Dwi

bottle
bukalapak.com

Sebagai pegawai biasa dengan ijazah SMA, ayah saya hanya mampu mengirim saya ke sekolah yang sewajarnya; bukan sekolah yang mahal, bukan sekolah dengan ibu-ibu sosialita berbincang tentang arisan dan branded stuffs sambil menunggui anak mereka sekolah. Sebut saja TK Sinar Nyata. Sebuah TK yang dikelola oleh yayasan multi-agama yang cenderung menjadi sekolah para kaum menengah ke bawah pada masa itu.

Seingat saya, sebagian besar orang tua murid di sekolah saya bekerja sebagai pedagang kecil, ada juga yang buruh pabrik, namun ada juga yang juga pegawai. Whatever, murid-murid tetap bisa berbaur satu sama lain karena yang kita pikirkan hanyalah: main belajar.

Masuk awal catur-wulan kelas nol besar, kelas kami kedatangan seorang murid baru. Namanya Dwi, seorang gadis mungil kecil yang rambutnya suka dikucir kuda sangat rapi. Tidak ada rambut yang berantakan nongol kanan kiri atas bawah seperti rambut Kiki kecil. Dwi anaknya sangat pendiam dan lebih sering menghabiskan waktu bersama ibunya ketika jam istirahat. Kiki kecil sangat tidak bisa melihat orang yang diam tak bermain-main seperti itu, sehingga Kiki kecil selalu berusaha mendekatinya dan mengajak Dwi main bersama. Sungguh mulia.

Jika dewasa ini, Tupperware (atau teman-temannya lock and lock, etc) sedang menjadi favorit buat botol minum anak-anak, kalau masa Kiki kecil, botol minum yang kami bawa adalah botol minum yang unik dan lucu bentuknya. Ada yang bentuk robot, telepon, boneka, bus, keker, bermacam-macamlah pokoknya. Mungkin saat ini ada sejumlah anak yang pakai botol minum yang lucu-lucu juga, cuma saya udah jarang lihat.

Kiki kecil nggak suka air putih. Budhe: kakak dari ayah saya yang mengasuh saya sejak kecil, selalu membuatkan saya sirup orson atau teh, atau susu coklat, atau coklat manis sebagai bekal minum di botol minum saya yang lucu. Pun teman-teman saya waktu TK juga botol minumnya beraneka bentuk dan warna. Tapi berbeda dengan Dwi…..

Sewaktu jam istirahat, Dwi menghampiri ibunya untuk meminta minum. Ibunya membuka sebuah gelas belimbing berisi air putih yang ditutup oleh plastic bening dan diikat dengan karet gelang supaya airnya tidak tumpah. Sebuah gelas kaca dengan tutup dari kantong plastik. Dan Dwi tetap meminumnya dengan bahagia disaat Kiki kecil yang menyaksikannya merasa iba.

Lama waktu berselang, Dwi sudah tidak ditunggui ibunya lagi. Hanya kakak laki-lakinya yang menjemput dia sepulang sekolah. Bu Guru bilang kalau ibunya meninggal karena sakit maag. Lalu tak berapa lama pula, Dwi sudah tidak pernah sekolah lagi. Kiki kecil tidak tau dimana Dwi dan belum mengenal kata kepo atau stalking.

Ini seberkas dari sekian gelintir ingatan saya tentang masa TK saya. Dwi, saya harap saat ini kamu hidup bahagia seperti seraut wajah damaimu kala menikmati setiap teguk air putih di gelas bertutup kantong plastik itu, dengan ibumu.

 

Masih ingatkah kamu dengan masa-masamu di Taman Kanak-Kanak?

Solo, pagi hari.

Rindu yang Bertemu

“Thomas!”

Aku berlari kecil menghampiri lelaki yang duduk di sepeda motor di depan Hotel H Sovereign, Kuta – Bali. Hatiku berdegup kencang. Selalu seperti ini saat ku temui dia. Sejenak kami berpelukan. Hanya sejenak, meskipun aku ingin lebih lama. Lebih erat. Rindu selama lebih dari empat bulan ini seolah-olah menuntut haknya.

Kami memutuskan untuk mencari nasi padang di sekitar Kuta untuk makan malamnya. Kami kikuk. Aku jauh lebih kikuk. Thomas tampak sedikit lebih tenang. Entahlah. Aku tak tau apa yang ada di pikirannya.

Bagi Thomas yang tidak suka hingar bingar dunia malam dengan house music, Kuta bukanlah tempat yang menyenangkan bagi dia. Thomas meminta untuk hang out di lobi hotel saja.

Sejenak kami merasakan kursi empuk dan nuansa mewah hotel ini. Kemewahan. Sesuatu yang juga Thomas benci setelah orang kaya. Aku memutuskan untuk mengajaknya ke rooftop untuk melihat kolam renang. Alasan yang sangat naïf: aku mau lihat kolam renang.

Tibalah kami di rooftop hotel ini. Syahdu. Kolam yang sangat luas dengan beberapa kursi malas. Dan pemandangan pesawat yang landing dan take-off. Serta langit dan bintangnya.

Nampaknya ini adalah sebuah kesalahan saat kami berada di sini. Selama empat bulan ini hubungan kami tidak terlalu baik. Aku seperti cinta tapi juga benci. Naluri kelaki-lakiannya pun muncul saat dia memutuskan pindah dari tempat duduknya untuk rebahan di sebelahku. Tangannya mulai berayun lebut ke pinggulku dan membuat darahku berdesir.

Naluri wanitaku yang mendambakan kasih sayang pun juga muncul. Aku meletakkan kepalaku tepat di dada kirinya. Untuk keempat kalinya aku mendengarkan secara jelas kala jantungnya berdetak kencang. Then we kissed, under the sky, the moon, and the stars of Bali.

“I hope you forgive me for not having better self control last night” –Thomas

Dia hanya meninggalkan pesan sesingkat itu dan lalu menghilang. Meninggalkan aku dengan perasaan bodoh, ditambah dengan penyesalan atas hal yang juga aku inginkan. Ah rindu, kau menyiksa saat tak bertemu. Kau menyiksa pula setelah bertemu. Ah, Sri….

 

Y984063045

Dekat Airport Ngurah Rai, Maret 2015.

Mau Jadi Apa

Dulu waktu kecil, saya itu termasuk anak yang cerdas. Ya bandel sih, suka main panas-panasan, renang di empang, balapan sepeda, dan temen saya cowok semua.

Waktu SD, saya juga ranking minimal sepuluh besar terus.

Waktu SMP udah tambah bandel. Suka telat dateng ke sekolah. Suka main ke rumah temen tanpa pulang dulu ke rumah. Tapi masih tetep pinter walaupun nggak selalu ranking. Menurut saya lho ya.

Waktu SMA, bandelnya semakin menjadi. Suka pulang maghrib karena uda sok sibuk jadi pengurus OSIS. Pinter??? Emmm mungkin untuk beberapa mata pelajaran saya masih terbilang mencolok. Sering banget bolos karena itu tadi, sok sibuk jadi pengurus OSIS.

Pas kuliah….. Semakin menjadi deh bandelnya. Udah semakin berani mencoba hal-hal yang sering dilarang orang tua. Teorinya, semakin dilarang semakin si bocah penasaran kan. Tapi akhirnya apa yang mama bilang itu selalu benar. Eh. Kebanyakan benar ding.

Sekarang saya lagi duduk di lobi hotel. Lihat mbak-mbak pegawai hotel seliweran. Di arah jam 11 pun terdapat salah satu outlet maskapai. Iseng-iseng saya buka career opportunity di maskapai tersebut. Cek cek cek keknya saya ngga cocok sama job vacancy yang tersedia. Belum punya ijasah soalnya.

Lalu saya juga iseng-iseng bayangin diri saya kalau saya beneran kerja di hotel; nerima tawaran dari beberapa teman di Bali yang mengelola hotel. Kayaknya skill Bahasa Inggris saya bisa masuk ke kerjaan-kerjaan tersebut.

Ah…. Sepertinya saya harus menyelesaikan apa yang saya barusan iseng-isengin. Iya. Sepertinya harus bangun dulu dari tidur dan kembali ke realita bahwa status saya sebagai mahasiswa belum juga berakhir.

Kalau dulu waktu ditanya “mau jadi apa?”, saya selalu punya jawaban. Waktu TK sampai SMP saya mau jadi arsitek. Eh waktu SMA kok saya sebelnya ampun-ampun sama Kimia, yasudah jadi anak IPS aja. Sempet pengen jadi akuntan, tapi setelah dipikir-pikir lagi saya mau jadi guru aja. Karena waktu itu saya ngefans sama guru-guru saya yang pinter-pinter.

Eh… Ga taunya hidup penuh kejutan ya. Saya sempat kerja jadi guru iya, translator iya, jurnalis iya, presenter iya, tour guide iya, akuntan iya, public relation iya, graphic designer juga iya. Stop… Ngga usah bayangin kalo saya keren. Saya itu belajar dan digaji. Lucky!

Sekarang kalau ditanya “mau jadi apa”, saya mau jawab satu aja “saya mau lulus aja”. Iya saya pengen cepetan lulus biar segera menepakkan sayap saya kembali. Lalu terbang tinggi.