You Deserve!

This morning I received message on my LINE from my former student.

“Miss, I am accepted”.

Suddenly, I felt so happy to hear the news from her.

She was my student for English conversation. She was the junior of my little brother when they worked together in a theatre club of their Senior High School. Since that time, I felt so connected to her cause we both could talk about art performing and of course, did some information about my brother.

She applied for immigration academy. I had just heard from her about immigration academy. Before, I had no idea if the people who work in immigration office should have education degree in academy of immigration.

In the previous year, she also applied. After some tests she was announced failed, which was almost the final test. She was sad, but didn’t give up. She tried it again this year.

She told me about the tests, which were a lot. Be it, academically, physically, interview, medical check up, and even virginity. Yes, I am not kidding. Virginity test was included for the test and the candidate (female) should be virgin. It’s interesting topic, isn’t it? Lets talk about it later.

I witnessed how hard she tried, how much money she had spent since the tests were held in Jakarta. Even she exercise a lot; running, swimming, to meet the body goal and prepare for sports tests.

There were no any words to respond from me but “Alhamdulilah, Praise The Lord”.

She said thanks to me for guiding her and supporting her during her hard times facing the tests. I was so flattered then my heart was touched for such kind of her gratitude, but still… “It’s because your hard work, dear! You deserve it”.

I finally feel the feelings of being a teacher. We watch one’s process of reaching their dream. We even don’t feel that we do something special, but for our students, it may means a lot for their life. We are happy, we are proud when we see our students achieve their goals, their dreams.

And one thing I learn very precious things from her: WORK HARD PAID OFF.

Hasil tidak akan pernah menghianati proses.  –unknown

Congratulation, my dear student! May your heart, your steps, are always blessed to lead you becoming a person who can give good vibes for the world. Your dream has just started.

Tinderella

The girl in the corner was sitting quietly, staring at her iPad. She was sweeping right and left. So did the girl in the centre. She was staring at her iPhone, did the same finger movement as the girl in the corner.

Some take it easy. Some take it hard.

We were lonely.

We were hurt.

We were empty inside.

We needed someone to talk to. Someone who would ask, “how’s your day?”

We needed someone to fuck. Someone to fulfil the undone part by the previous one.

We might find an angel, might an evil.

 

 

 

Plis, deh… Jangan Gatel Lagi!

Mbak gatel.

Aku pernah denger lelucon pepatah begini: uang memang nggak bisa menjamin kebahagiaan. Tapi lebih baik menangis di dalam mobil Mercedes Benz daripada di atas sepeda motor. Kalau aku sih mau nambahin dikit jadi gini: uang memang nggak bisa menjamin kebahagiaan. Tapi lebih baik menangis di dalam mobil Mercedes Benz daripada di atas sepeda motor, apalagi kalau pas hujan deras. Soalnya hujan-hujan naik motor itu agak syusyah juga. Mau nutup helm, jalannya nggak keliatan. Kalau nggak ditutup kaca helmnya, muka kena air hujan yang turun dari langit, yang rasanya kayak ditampar bapak pakai sandal waktu aku kecil. Pedes, cin!

Kalau aku sih nggak pilih keduanya. Kondisinya ama-sama nangis soalnya. Kan sedih. Tapi kalau disuruh milih, aku mau milih di dalem Mercedes Benz dan bahagia. Sorry, it was out of options.

Ngobrol-ngobrol tentang kemewahan, suatu hari di bulan Maret 2016, aku pernah nginep di salah satu hotel bintang lima di Surabaya yang konon Syahrini suka juga nginep di situ. Ceritanya, itu adalah momen reuni dengan none-none syantik semasa aku kerja di Jakarta. Dan itu aku digratisin karena mereka paham bahwa aku yang paling kere kangen berat sama aku. Kalau buatku sendiri, Surabaya seperti rumah kesekian karena aku sering transit di Surabaya dari Denpasar maupun nebeng bobok di rumah sahabat-sahabatku di dekat Juanda. Jadi, kala itu aku juga nggak excited-excited amat waktu bilang,”yeay, akhirnya main ke Surabaya!” *yaapa sih kon iku -.-

J.W.M.

Saat itu, aku sedang menderita sakit gatal-gatal. Literally gatal. Jadi sekujur tubuhku gatel dan muncul bintik-bintik merah. Itu berlangsung selama sekitar tiga bulan. Meskipun udah ke dokter, minum jamu, mandi rempah, pakai bedak, tetap aja gatelnya nggak reda. Reda sejenak habis mandi, lalu timbul lagi dan rasanya harus selalu pengen digaruk. Bersyukurnya, mukaku nggak ikut bintik-bintik meskipun sempat agak mruntus. Belakangan diketahui bahwa sakit gatel itu adalah bagian dari stress/depresiku pada waktu itu. Kapan-kapan aku ceritain kalau lagi mood.

Bintik-bintik merah menggemaskan.

Kembali lagi tentang kisah sehari melancong mewah, makanlah daku seporsi kepiting saus padang yang endez. Lalu sesampainya di hotel gatalnya makin manja, minta digaruk. Akhirnya aku berendam air hangat di bath-up dan dikasih garam dikit (uda disiapin dari hotelnya). Tapi seperti yang kuceritain di atas, gatalnya reda sejenak setelah mandi aja, habis itu balik lagi. Akhirnya, tidur di ranjang cantik bak princess pun juga nggak lelap karena sering kebangun dan garuk-garuk.

Lega sementara…

Terus kaitannya sama lelucon pepatah di atas tadi apa? Kalau menurutku, mau dimanapun kalau kita lagi nggak enak ati, nggak enak badan, rasanya ya kemewahan itu terasa hambar. Pun sebaliknya. Mau dimanapun dan dalam kondisi apapun, asal sama orang yang asik dan disayangin, pasti bakal indah.

Di akhir cerita, aku tetep haha-hihi sama teman-temanku: membahas masa depan, diskusi tentang ketuhanan (agak berat ini topiknya), dan ngomong saru konten 17+. Terima kasih untuk kasihnya, kawan. Kini aku sudah nggak gatal.

Santi. Santi. Santi.

14 Tahun Bali Bombing

Aku dan adikku sedang berjalan menikmati sore (sekitar jam 20.00 itu masih sore kan?) di daerah Kuta. Masih terlalu pagi untuk nge-bar, sekedar pesan sebotol bir yang harganya 2 atau 3 kali lipat dari harga normalnya. Dan, ah lupakan ide itu. Aku sedang di Kuta dengan adikku, ‘gadis Jawa baik-baik’. Repotlah nanti jika aku harus adu argumen kala liburan.

Gadis-gadis penyebar flyer dan penyambut tamu adalah pemandangan yang menjadi ciri khas bar-bar disini. Sesekali mata mereka memandang ke sesama pekerja wanita yang lain. Sekilas ada titik persaingan di antara mereka. Mungkin. Salut aku atas daya tahan tubuh mereka dari angin malam yang akan dengan mudahnya menyentuh kulit gelap mereka yang tak tertutup banyak kain.

Berhentilah aku dan adikku di tempat ini. Tempat dimana 14 tahun yang lalu suasananya pasti tidak seperti saat kami disini. Aku masih SD saat menyaksikkan beritanya di TV. Sekarang hanya bisa membayangkan mereka yang harus bekerja malam untuk menafkahi keluarga di kampung halaman, dan mereka yang sedang berusaha menikmati hidup sejenak selepas kerja keras di Negara asal mereka, dengan sekejap meninggalkan dunia untuk selamanya.

Di sini, di seberang sebuah monumen yang bertuliskan nama-nama korban dalam tragedi bom Bali. Monumen yang bagiku hanya sekedar bangunan, namun sarat akan makna bagi keluarga dan orang dekat para korban. Ah, Tuhan, semoga KAU berikan kekuatan untuk mereka yang ditinggalkan.

Amor Ring Acintya. Om Shanti Shanti Shanti.

20150329_205501
Photo by Reza Yunita 

Dadar Ijo: Sarapan dan Dessert Cantik

Saya lupa-lupa ingat, percakapan apa yang membawa saya dan teman-teman saya (Paula dan Marta) memasak green pancake pada akhirnya. Kalau nggak salah, waktu itu salah seorang dari mereka penasaran tentang pancake yang berwarna hijau. Dia mengira kalau warna itu nggak alami, lalu saya jelasakan kalau kita (mungkin nggak hanya di Indonesia) biasa menggunakan daun pandan untuk mewarnai makanan.

Akhirnya saya turun tangan untuk mempraktekkan “green pancake” alias dadar ijo ini. Bahannya simple sekali seperti pancake pada umumnya. Kalau pancake kami bahan-bahannya tepung terigu, telur, susu, garam, gula, butter, dan nggak ketinggalan air hasil perasan daun pandan yang ditumbuk. Ini dia penampakan Marta dan Paula yang lagi bikin dadaran. Saya instrukturnya dan merangkap jadi tukang dokumentasi.

Ngomong-ngomong soal daun pandan, saya sempat salah memilih jenis daun pandan. Kurang tau sih ada berapa jenis daun pandan, tapi setau saya ada yang memang khusus buat bahan masak dan ada yang buat tanaman hiasan (yang agak berduri dan biasa dipakai buat senjata perang di Desa Tenganan). Kayaknya lho ya.

Saya membuat kue pandan hijau ini dua kali. Pertama waktu party di rumah teman saya, Tania, di daerah Candidasa, dan yang kedua waktu Marta nginep di tempat saya. Pas bikin di tempatnya Tania, kayaknya nggak ada yang mencurigakan dengan daun pandannya. Tapi yang kedua, waktu bikin di Tulamben, saya nggak ngerti harus nyari daun pandan dimana, secara pasarnya jauh bok. Akhirnya saya jalan ke tempat tetangga saya; mbok Komang yang punya tanaman ini di rumahnya.

Pas saya mau ambil, kok beda ya dari daun pandan yang sebelumnya. Agak lebih keras. Tapi toh akhirnya saya pakai juga dan hasilnya memang nggak sehijau yang pertama. Nggak tau sih penjelasan ilmiahnya bagaimana. Yang penting saya, Marta, dan Nans yang saat itu makan dadar ijo -dengan pandan yang mencurigakan-, masih sehat2 aja.

Pernah nemu dadar ijo di daerah kalian?

Smoothie Bowl

Dulu waktu tinggal di Bali, jenis makanan ini belum ngehits seperti sekarang. Eh atau mungkin karena akunya tinggal di kampung, jadi resto-restonya belum coba inovasi baru. Sekarang lihat posting temen-temen yang suka nongki cantik, ini makanan kayaknya lagi hits.

Kalau dulu sih aku pikirnya smoothie ini ya minuman. Diminum pakai sedotan. Aku suka pesen banana/mango smoothie sambil nongkrong galau sama Liza. Ah, mendadak kangen sama warung Komang. 

Iseng dong pagi ini coba bikin smoothie bowl sendiri. Niatnya sih mau breakthrough: bikin perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Mumpung awal bulan, momennya pas buat memulai sesuatu yang baru. Jadi mau sarapan pakai buah-buah gitu, ngurangin nasi biar agak susut dikit.

Tapi you know lah yang kayak gitu itu biasanya hanyalah WACANA. Jadi tadi pagi waktu aku lagi ngupas2 buah, bapakku sarapan sama telur dadar. Sama bapak, telur dadarnya disisain separuh. Aku adalah orang yang penuh belas kasih jadi nggak bisa kalau lihat dianggurin. 

Akhirnya…..yes… Sarapan ronde pertama pakai nasi 3 sendok dan telur dadar! Hahaha. 

Tapi apakah smoothie bowlnya nggak jadi? O… Tentu jadi! Kalau nggak jadi, nggak bakal ada foto di bawah ini.

  

masih perlu belajar plating
Bikinnya smoothie ala Kiki-nya simpel banget. Pisang, anggur, kiwi sama susu putih cair sedikit aja. Terus diblend. Udah gitu aja. Yang bikin lama adalah ngupas2 dan potong buahnya plus nyuci alat2nya.

Lalu apa bedanya smoothie di gelas dan smoothie bowl? Sensasinya. Iya, berasa kayak makan bubur tapi bubur buah, jadi bikin seger. Berhubung tadi aku udah sarapan ronde pertama, jadi smoothie bowlnya nggak abis. Maruk sih. 

Kamu udah pernah coba? Kalau belum, jangan jadiin post ini sebagai acuan karena kamu mungkin ngga akan terpacu. Hehe. Silahkan cari aja di IG pake hastag #smoothiebowl. Bakalan ada banyak gambar2 yang bikin kamu semangat buat create your own smoothie bowl.

Have a blessed August!